Masalah dalam
Batin
Gemercik air terdengar tenang di ruang keluarga pagi
itu, seakan menutupi telingaku dari teriakan mereka. Mereka adalah ibu dan
bapakku. Sering kali aku mendengar
pertikaian keluarga kecil ini. Berharap aku bisa mendamaikan mereka , tapi
nyatanya aku hanya bisa meneteskan air mata ketika kejadian itu berulang kali
terjadi. Dan tidak jarang justru pertikaian itu karena Aku.
“ Er, dulu mas
mu itu tidak seperti kamu, “ dilanjutkan pendeskripsian seperti apa anak emas
itu, “Dia lebih sayang sama Ibu , lebih
rajin , lebih pinter, lebih soleh...“
Ya, nampak aku tidak pernah bernilai lebih dimata
Ibuku. Tiap kali Ibuku bercerita, selalu saja membuatku bertanya, “ Siapa
sebenarnya aku ? “ terpikirkan pula
“Kenapa terasa hanya satu anak yang dapat dibanggakan di rumah ini.” Ataukah sebenarnya
semua itu wajar dalam keluarga, dimana terdapat satu anak emas dan satu lainnya mendengarkan cerita
tentang si anak emas.
***
Tugas kuliah , kegiatan organisasi , menjadi
volunteer difabel, kadang membuatku
tidak sempat untuk melakukan pekerjaan rumah seperti mengepel lantai. Aku rasa
itu bukan masalah karena mungkin Ibuku paham padatnya kegiatanku saat ini .
“ Sudah laptop lagi ! Itu pakaian belum di cuci ,
ihh gadis kok kaya gitu,”
“ Iya Bu, hari ini tugas kuliah sangat banyak, nanti
pulang kuliah aku cuci.”
“ Dulu mas mu itu selalu bangun pagi, nyuci baju ,
menyapu , kasih makan kambing, kamu kok begini.” Ibu selalu berkata dulu ketika bercerita tentang kakak karena saat ini kakak tidak lagi tinggal
bersama kami melainkan sudah tinggal
dengan istrinya.
Aku hanya bisa diam berpikir dan melanjutkan
mengerjakan tugas ketika Ibu sedang membandingkan ku dengan kakakku. Apakah
kuliah dengan bantuan beasiswa yang menuntutku mempertahankan IPK tinggi , ditambah tiap hari pulang malam
karena harus memberikan les privat adalah salah dimata Ibu ku ? Apakah yang terbaik adalah menjadi seperti
Kakakku yang tidak ingin melanjutkan kuliah ?
Entah sampai kapan pertanyaan itu akan terjawab jika aku hanya bertanya
di dalam hati.
***
“Hari ini aku harus pulang lebih awal , aku akan
bersihkan rumah , masak , nyuci baju , biar Ibu senang.” Begitu aku berharap
untuk bisa mendapat pujian Ibu. Benar adanya , aku bisa pulang lebih awal
karena tidak ada kegiatan organisasi maupun les privat.
Semua pekerjaan rumah sudah ku selesaikan, tapi Ibu
belum juga pulang kerja. Aku berusaha mengkondisikan rumah sebersih mungkin
agar ketika Ibu sampai, Ibu memujiku. Setelah waktu menunjukkan pukul 17.00 wib
, bapak dan ibu pulang.
“Capeknya...” Aku melihat Ibu sangat capek hari itu,
aku tidak ingin mengganggunya. Dia segera mandi, kemudian tidur. Ya pujian
tidak lagi aku dapat dari Ibu. Hingga pagi datang , Aku harus segera mandi dan
berangkat kuliah karena kelas akan mulai pukul 07.00 tepat.
“Bu,Pak, Eri
berangkat ! Assalamualaikum .”
“ Hem belum nyapu halaman rumah, udah mau
berangkat.”
“ Bu, udah jangan buat masalah! ” Bapak berkata
dengan nada tinggi. Bapak jarang bicara, Dia tidak pernah memarahiku tapi tidak
pernah bercanda denganku pula.
Segera aku hidupkan motor dan berangkat karena aku
yakin ketika bapak mulai menjawab kata kata Ibu , itu artinya mereka akan
segera bertengkar lagi.
***
Seperti biasa , tempatku beristirahat adalah di
Pusat Layanan Difabel (PLD). Hari itu hanya ada Ibu Hany, beliau adalah orang
yang mengurusi semua kegiatan di PLD.
“ Kamu ngga ada kelas Nduk ?” Ibu Hany menegurku dengan lembut.
“ Ada Bu
nanti, ” Aku meneruskan jawabanku dengan bertanya “ Bu ? apakah semua Ibu selalu membandingkan
anak-anak nya untuk membuat anaknya lebih baik ?”
“Ya ngga lah nduk,
semua anak itu mempunyai kekurangan dan kelebihan masing masing , sebagai
seorang Ibu kami harus bisa memahami masing masing , bukan membandingkan
keduanya.” Jawaban Bu Hany justru membuat ku menjadi semakin bingung kerena
berbeda dari yang ku ketahui.
“Jika ada yang justru membandingkannya ?” Tanya ku
lagi
“ Mungkin itu karena Si Ibu sedang benar benar jengkel, dan jalan terakhir adalah
membandingkan yang baik dan buruk dengan maksud si Anak bisa mengaplikasikan
yang baik.” Jawaban Bu Hany membuatku sedikit paham dengan apa yang dilakukan
Ibuku.
***
Bu, apa Eri sangat membuat Ibu jengkel ? Eri
harus harus menjadi Eri yang seperti apa ? Dua
kalimat aku tambahkan dalam buku usang yang kusus aku gunakan untuk mencatat
pertanyaan pertanyaan dalam hati. Setelah itu aku pulang menggunakan sepeda
motor seperti biasa. Tidak pernah aku sia-sia kan waktu ku untuk tidak
memikirkan bagaimana agar ibu memujiku,
meskipun sedang mengendarai motor aku selalu bertanya tanya dalam hati
berusaha mengevaluasi diri . Mencari letak kesalahanku yang membuat Ibu begitu
jengkel kepadaku.
***
Kini hari-hari ku habiskan hanya dengan merenung ,
tubuh terasa enggan untuk bergerak , telinga terasa malas untuk mendengar semua
bunyi disekitar. Dan ternyata apa yang kuharapkan itu benar terjadi. Aku merasa
suasana rumah lebih tenang dari biasanya. Tidak ada lagi nada tinggi yang
terdengar antara Bapak dan Ibu yang
biasanya menjadi sarapan pagi ku.
Batinku tidak pernah berhenti bertanya seperti
sebelumnya, tapi kali ini aku menanyakan
hal yang berbeda . Apakah kuliah sudah mulai libur ? Kenapa aku tidak pernah
pergi kuliah ? Kenapa Ibu tidak lagi bekerja ? Kenapa Ibu selalu menemani tidurku
? Apakah Ibu sudah tidak lagi jengkel denganku ?
Kali ini aku tidak begitu menginginkan jawaban dari
pertanyaan batinku. Karena batinku merasa bahagia, kini Ibu mulai sayang
kepadaku. Hal ini membuatku tidak ingin beranjak dari tempat tidur, membuatku
enggan untuk berbicara lagi, dan berharap keadaan tenang, sunyi, tanpa ada
suara apapun yang terdengar di telinga
ini terus berlangsung.
Pagi itu aku masih enggan bangun dari tempat tidur,
Aku melihat Ibu dan Bapak datang ke kamar, aku sambut mereka dengan senyuman.
Mereka juga tersenyum tapi ada air yang keluar dari mata Ibu, aku bahkan lupa
apa yang sedang ibu lakukan itu, kenapa air bisa keluar dari mata. Ibu
membawakanku makan, aku ingin mengatakan pada Ibu aku bisa makan sendiri Bu, tapi Ibu lebih dulu menyuapiku. Aku
senang Ibu kini sangat sayang padaku.
***
Hari ini sebenarnya aku merasa ingin beranjak dari
tempat tidur dan menyelesaikan pekerjaan rumah, tapi aku takut jika aku
terbangun semua akan kembali seperti sebelumnya. Aku takut Ibu akan menjauh
dariku lagi. Jadi aku masih enggan beranjak dari tempat tidur, aku berharap Ibu
akan menemuiku dan menyuapi seperti kemarin.
Ya ternyata
Ibu tidak bekerja lagi, buktinya dia masih menemaniku dikamar hari ini. Akan
tetapi hari ini justru sedikit membuatku takut kembali, karena seharian Ibu ku
menemaniku dengan kakak. Aku takut jika Ibu terlalu lama dengan kakak ia akan
kembali menjauh dariku. Ibu selalu tersenyum ketika mendapati mataku yang melihatnya sambil memikirkan kakak.
Ketakutanku ternyata salah. Kakak tidak menjadi penghalang kasih sayang
Ibu kepadaku. Bahkan sekarang aku merasa Kakak lebih sayang kepadaku hari ini daripada sebelumnya.
Hari yang kulalui terasa sangat menyenangkan , semua
yang kuinginkan dalam keluargaku sudah benar benar terwujud. Aku yakin ini
bukan mimpi. Ini memang keluargaku yang tidak pernah ada pertengkaran, yang
saling menyayangi satu sama lain , tanpa terdengar lagi kalimat masmu
lebih ini! kamu kok kaya gini ! itu lo contoh masmu !
***
Aku mulai merasa kangen dengan suasana kampus, aku
ingin berjumpa dengan teman temanku, aku mulai rindu suasana PLD yang dipenuhi
teman teman tuna. Ya, Aku berpikir, ini saatnya ! Aku tidak takut lagi bicara,
aku tidak takut lagi mendengar, aku ingin mendengar suara Ibu, aku ingi berkata
lagi.
Seperti sebelumnya Ibu masuk kedalam kamar, aku
seperti sudah berkata kepada Ibu “Bu, aku ingin berangkat kuliah,” tapi kenapa
ibu tidak menjawabku justru hanya senyum yang keluar dari Ibu. Aku mulai cemas
tiap kali aku berusaha berkomunikasi dengan kakak, bapak juga Ibu, mereka hanya
tersenyum . Aku mencoba untuk diam kembali, aku melihat mereka sedang mengobrol
tapi kenapa aku hanya bisa melihat kenapa masih tetap tidak terdengar suara
mereka. Apa yang terjadi padaku ? Aku ingin berdiri dan duduk disamping mereka
, aku tidak lagi enggan untuk beranjak , tapi kakiku masih tidak mau beranjak.
Aku berusaha melambaikan tangan, ternyata tanganku baik baik saja , tanganku
berfungsi dengan normal. Ketika aku melambaikan tangan , kakak, ibu dan bapak
mendekat. Aku ingin bertanya ada apa denganku ? apa yang sebenarnya terjadi ?
Tapi mereka tidak menjawab apa-apa. Sampai akhirnya keluar air dari mataku,
begitu pula keluargaku mereka mengeluarkan air dari mata.
***
Akhirnya aku tahu, semua tidak sedang baik-baik
saja. Keluargaku memang membaik, sekarang ibu dan bapak akur, Ibu tidak lagi memarahiku apa lagi membandingkanku dengan
kakak, tapi semua itu terjadi karena aku tidak sedang baik-baik saja. Setiap
hari ibu memberiku obat, bukan vitamin.
Sekarang aku berkomunikasi dengan menggunakan
tanganku, aku menulis dan membaca untuk tahu apa yang terjadi pada diriku.
Hingga aku menulis surat pada ibu,
Bu Aku ingin Ibu
menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padaku ? Kemudian
aku menunggu lama hingga ibu selesai membalas surat ku. Setelah beberapa menit
aku bisa membaca surat balasan dari Ibu
Jadi Nduk, kamu
diantar teman teman mu dari kampus sudah dalam keadaan tidak sadar, sepertinya
kamu sedang tidak fokus mengendarai sepeda montor dan terjatuh. Untungnya kata
dokter tidak ada cacat fisik yang berarti, kamu tidak papa. Hanya saja psikis
mu yang terganggu Nduk , sehingga kamu susah untuk bicara dan mendengar juga
menggerakkan kaki. Dokter bilang kamu hanya perlu kasih sayang yang lebih,
karena tekanan batin kamu jadi seperti ini Nduk. Nduk, Ini semua salah Ibu. Ibu
minta maaf jika selama ini batinmu tertekan dengan sikap Ibu, Ibu sudah membaca
semua tulisan di bukumu.
Jawaban Ibu menjelaskan semua yang ingin
ku ketahui tapi , aku cemas hingga aku menyodorkan pertanyaan lagi kepada Ibu.
Bu,
lantas apa aku tidak akan sembuh ? Ibu
justru kembali meneteskan air mata membaca pertanyaanku, aku mengusap air mata
itu, dan berharap Ibu menjawab pertanyaanku.
Pasti
, pasti kamu akan sembuh. Hanya saja perlu waktu, kamu butuh suasana yang nyaman
, disayangi,kamu juga harus semangat dan menyugesti dirimu sendiri bahwa kamu
akan sembuh. Selain itu dokter juga sedah memberikan obat untuk menenangkan
pikiranmu agar cepat membaik.
Aku kembali semangat setelah membaca
penjelasan Ibu. Aku yakin aku akan segera sembuh. Setiap hari aku menjalani
terapi ditemani ibu yang selalu sabar untuk kesembuhanku.
***
Setelah enam bulan cuti kuliah, akhirnya
hari ini aku bisa kembali ke kampus kesayanganku. Aku,Ibu,Bapak juga selalu
mengerjakan semua pekerjaan rumah dengan bekerjasama. Bapak dan ibu tidak lagi
bertengkar. Hanya saja aku harus belajar lebih keras untuk mendapatkan beasiswa
yang lain, karena beasiswaku yang dulu tidak mengizinkan cuti.
Ibuku mulai paham, bagaimana memahami karakter
masing masing anak tanpa membandingkan kelebihan seorang dengan yang lain. Aku
juga tidak lagi memendam masalah dalam batinku. Bapak , ibu dan aku juga Kakak
selalu menyelesaikan dengan bermusyawarah. Sehingga saat ini keluarga kami
menjadi sakinah , mawadah, wa rahmah.
***