Senin, 31 Juli 2017

cerpen singkat terbaru



Karena Aku Seorang Petani

“ Yud bagusnya ambil apa ya  ?”
“ Pertanian  Nis”
“ Kamu mah ditanya serius jawabnya ngawur.”
“ Loh apa ada yang salah dari jawabanku ?”
“ Kalau mau jadi petani mah gak usah bayar mahal-mahal buat kuliah Yud. ”
“ Petani yang seperti apa dulu Nis ..”
“ Petani ya petani Yud, yang kerja penuh keringat tapi tetep gak kaya juga”
“ Bukan seperti itu Nis...”
***
“Cita-cita ku adalah menjadi seorang dokter”
“ Aku mau jadi guru”
“Aku besok mau jadi polwan”
Masa kecil memang masa dengan percaya diri tinggi untuk mengungkapkan apa yang kita kagumi untuk dijadikan sebagai cita-cita. Namun tidak semua cita-cita itu dipertahankan oleh pemiliknya sampai Ia dewasa karena berbagai alasan. Begitu pula dengan Yuda,Yuda awalnya sangat ingin menjadi seorang pegawai negeri sipil dengan alasan supaya kelak meskipun dirinya sudah tidak mampu untuk bekerja , masih ada jaminan gaji pensiun. Namun saat ini harapan terbesar Yuda saat ini adalah bisa lolos SNMPTN Jurusan Pertanian.
“ Takut ambil jurusan favorit Dia mah,”
“ Iya kalo pertanian kan saingannya sedikit, pastilah dia akan keterima,”
“ Gak kasihan sama orang tuanya kali yaa, Dia kan anak tunggal kok cuma mau jadi petani. ”
Tidak ada satu kalimat pun dari gadis penggosip SMA itu yang benar menjelaskan alasan Yuda memilih pertanian. Bukan saingan jurusan favorit dalam SNMPTN yang Yuda takuti , bukan pula Dia tidak ingin membahagiakan orang tua. Dia ingin membahagiakan semua keluarga besar,dan bahkan cita cita terbesar Yuda adalah mampu berpartisipasi dalam menjadikan seluruh Bangsa Indonesia hidup dalam kebahagiaan dengan potensi dan identitas Negara Kesatuan Republik Indonesia.
***

Hari ini adalah hari yang sangat dinantikan anak kelas XII , karena hari ini akan diketahui siapa yang akan mendapat merah dan siapa yang mendapat kata selamat. Suasana disekolah sangat bervariasi ada tangis bahagia, ada tangis kesedihan, ada yang diam tanpa kata, ada pula yang langsung lompat mengambil tas yang dia letakkan di meja kemudian lari pulang ke rumah yaitu Yuda.
 “ Assalamualaikum,Emak, Abah ! ” Yuda Pulang dengan penuh keceriaan.
“ Waalaikumussalam,Abahmu masih di sawah Yud. Kenapa kamu nampak senang sekali.”
“ Nanti Yuda ceritakan sekalian kalau Abah pulang Mak.”
“ Ya sudah bersihkan dirimu dan segeralah ambil makan. “
“ Emak paling tahu kalo Yuda sedang lapar hehe..”
Matahari sudah mulai tenggelam , langit nampak indah dengan warna khas senja yang membuat desa tempat Yuda tinggal menjadi nampak sangat asri , didukung pepadian yang mulai menghijau. Seorang pria paruh baya berjalan sambil bersenandung dengan kaos oblong sederhana, cangkul di pundak kanan dan topi caping kas fashion petani yang Ia kenakan. Pria itu adalah Pak Ibrahim, sosok ayah yang selalu memberikan dukungan kepada anaknya terutama dalam hal menuntut ilmu.
Emak aku jemput Abah ya, sudah hampir maghrib begini Abah belum juga sampai rumah.”
“ Tidak usah Yud, Abah sudah sampai ni. ” Abah datang, mengambil alih jawaban Emak.
“ Ya ampun Abah kok baru pulang ?”
“ Dari tadi anakmu itu menunggu , entah apa yang hendak dia katakan ke Abah.”
“ Mau bicara apa Le ? ”
“ Abah mandi saja dulu,lalu makan Bah, Abah sudah lapar bukan ? ”
“ Tahu betul kamu Yud kalau Abah lapar sekali.”
Emak yang mengajari kata kata itu Bah hehe.”
***
 “ Abah, Emak, tadi sudah keluar pengumuman SNMPTN nya”
“ Bagaimana hasilnya Le ? ”
Anu Bah Anu...”
“ Yud ... Yud, tadi Abah di sawah kamu gak sabar mau cepet cepet ngobrol, giliran Abah sudah di rumah, cuma mau ngomong ona anu ona anu, itu abah sudah menunggu ceritamu.”
“Betul kata Emakmu Le, segeralah cerita apa yang mau diceritakan.”
“ Jadi begini Emak, Abah, sebenernya Yuda sedikit takut mengungkapkannya, tapi Yuda sangat bahagia karena Yuda lolos SNMPTN”
“ Apa Yud ? Serius kamu Yud ? Terima kasih Gusti,”
“Alhamdulillah semoga saja kamu benar-benar menjadi orang yang bermanfaat bagi dirimu sendiri, keluargamu, juga negara Yud”
“ Aamiin,”
Loh lantas kenapa kamu tadi bilang takut Le,”
“ Karena Yuda takut Abah dan Emak akan memarahi Yuda, seperti halnya teman teman yang mengejek Yuda. ”
“ Kamu ini nglindur apa gimana Le, orang tua mana yang akan memarahi anaknya yang baru saja lolos seleksi nasional masuk pertguruan tinggi negeri.”
“ Kamu itu kok ya lucu Yud Yud, kenapa Emak mesti marah ?”
“ Karena Yuda , Yuda ambil jurusan pertanian UGM , Mak, Bah.”  dengan nada lirih Yuda mencoba menjelaskan yang menjadi inti pembicaraan.
“ Hahahahahahahahaha” Emak dan Abah justru tertawa, Yuda bingung dengan situasi ini.
“ Bahkan Emak dan Abah juga menertawakan impianku ? Apa Abah juga berpikir tidak perlu kuliah kalau hanya ambil pertanian ?” Yuda mulai teringat kata-kata teman-temannya tentang pertanian. Dia mulai tidak tenang “Atau Emak berpikir Yuda penakut, yang tidak berani mengambil jurusan kedokteran, teknik dan lainnya? Atau..”
“ Ssssssssssst udah udah Abah ini ketawa karena melihat ekspresimu yang sangat menggelikan. Kamu itu he ngomong apa, Abah ini dan juga Emakmu itu akan menerima keputusanmu,pilihanmu,”
“Asalkan kamu mampu menjelaskan apa alasanmu Yud, sebagai pemuda harus bisa mempertahankan argumennya jika itu memang benar, janganlah mudah terkecoh dengan omongan orang yang tidak tau sebenarnya.”
Yuda lega ketika melihat respons kedua orang tuanya. Sebagai lulusan terbaik di SMA , Yuda berjanji kepada Abah dan Emak , alasan mengapa dia memilih pertanian akan ia jelaskan ketika wisuda siswa nanti bersamaan dengan penyerahan penghargaan.
***
“ ...Yuda Bangun, ” nama Yuda diucapkan secara lantang oleh pembawa acara, sanjungan , tepuk tangan mengiringi Yuda menaiki mimbar sang juara. Yuda diberi kesempatan untuk mengucapkan satu dua patah kata. Diawali dengan salam Yuda mulai menyampaikan apa yang sudah Ia persiapkan, sampai pada bagian pesan,
“... Teman-teman ketika kita berhasil keluar dari SMA ini, itu berarti kita harus mampu memulai peran kita sebagai  pemuda. Seorang pemuda yang akan meneruskan perjuangan para pejuang,yang akan meluruskan NKRI sesuai dengan pilar pilar kebangsaan,” Yuda mulai mengajak teman-temannya untuk berpikir nasionalis. “Berjuang yang seperti apa ? perjuangan kita saat ini lebih sulit dari perjuangan melawan penjajah pada zaman dahulu. Perjuangan kita saat ini lebih sulit karena penjajahan pada zaman sekarang tidak menampakkan kekejaman tetapi merusak segala hal secara halus. Oleh sebab itu ayo sama sama kita pahami potensi negeri kita. Hal kecil yang sudah terlihat jelas didepan mata kita, Kita adalah negara agraris , berarti yang seharusnya menjadi aktor utama adalah petani. Tapi mengapa sekarang pemuda enggan bertani ? Kenapa masyarakat kelas bawah di desa kita identik dengan petani ? Itu karena dalam sistem pertanian khususnya di desa kita memerlukan pemuda yang mau mencari ilmu , memperdalam ilmu pertanian dan mampu serta mau menggunakan ilmu tersebut untuk mencari tahu apa masalah yang ada dengan pertanian dan bagaimana menjadikan pertanian semakin berkualitas dan mampu membawa Indonesia menjadi sejahtera.....Wassalamualaikum wr.wb. ” Yuda berhasil menyampaikannya dengan semangat yang menggebu-gebu.
Intinya Yuda hanya ingin mengajak teman-temannya sebagai pemuda untuk jangan takut menjadikan petani sebagai kunci untuk membangun negeri.
***
Yuda sangat menekuni kuliah nya , dia benar benar mencari ilmu bukan hanya mengejar Indeks Prestasi. Setelah satu semester Yuda sudah mampu memperbarui sistem persawahan milik kedua orang tuanya sehingga menghasilkan panen 5x lipat lebih banyak dari sebelumnya. Pada saat semester enam Yuda sudah mampu membuat masyarakat desanya semakin produktif dalam bertani, dan pemuda desa mulai bangga jika harus ikut turun tangan dalam pemaksimalan hasil pertanian. Pencapaian terbesar yang bisa di berikan Yuda sebagai seorang yang bergelut dalam bidang pertanian adalah dia mampu menjadikan petani desa nya saja mampu mengimpor beras dengan kualitas unggul.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar