Senin, 31 Juli 2017

cerpen keluarga terbaru



Masalah dalam Batin

Gemercik air terdengar tenang di ruang keluarga pagi itu, seakan menutupi telingaku dari teriakan mereka. Mereka adalah ibu dan bapakku.  Sering kali aku mendengar pertikaian keluarga kecil ini. Berharap aku bisa mendamaikan mereka , tapi nyatanya aku hanya bisa meneteskan air mata ketika kejadian itu berulang kali terjadi. Dan tidak jarang justru pertikaian itu karena Aku.
“ Er, dulu mas mu itu tidak seperti kamu, “ dilanjutkan pendeskripsian seperti apa anak emas itu, “Dia lebih sayang sama Ibu , lebih rajin , lebih pinter, lebih soleh...“
Ya, nampak aku tidak pernah bernilai lebih dimata Ibuku. Tiap kali Ibuku bercerita, selalu saja membuatku bertanya, “ Siapa sebenarnya aku ? “  terpikirkan pula “Kenapa terasa hanya satu anak yang dapat dibanggakan di rumah ini.” Ataukah sebenarnya semua itu wajar dalam keluarga, dimana terdapat satu anak  emas dan satu lainnya mendengarkan cerita tentang si anak emas.
***
Tugas kuliah , kegiatan organisasi , menjadi volunteer difabel,  kadang membuatku tidak sempat untuk melakukan pekerjaan rumah seperti mengepel lantai. Aku rasa itu bukan masalah karena mungkin Ibuku paham padatnya kegiatanku saat ini .
“ Sudah laptop lagi ! Itu pakaian belum di cuci , ihh gadis kok kaya gitu,”
“ Iya Bu, hari ini tugas kuliah sangat banyak, nanti pulang kuliah aku cuci.”
“ Dulu mas mu itu selalu bangun pagi, nyuci baju , menyapu , kasih makan kambing, kamu kok begini.”  Ibu selalu berkata dulu ketika bercerita tentang kakak  karena saat ini kakak tidak lagi tinggal bersama kami melainkan  sudah tinggal dengan istrinya.
Aku hanya bisa diam berpikir dan melanjutkan mengerjakan tugas ketika Ibu sedang membandingkan ku dengan kakakku. Apakah kuliah dengan bantuan beasiswa yang menuntutku mempertahankan IPK  tinggi , ditambah tiap hari pulang malam karena harus memberikan les privat adalah salah dimata Ibu ku ?  Apakah yang terbaik adalah menjadi seperti Kakakku yang tidak ingin melanjutkan kuliah ?  Entah sampai kapan pertanyaan itu akan terjawab jika aku hanya bertanya di dalam hati. 
***
“Hari ini aku harus pulang lebih awal , aku akan bersihkan rumah , masak , nyuci baju , biar Ibu senang.” Begitu aku berharap untuk bisa mendapat pujian Ibu. Benar adanya , aku bisa pulang lebih awal karena tidak ada kegiatan organisasi maupun les privat.
Semua pekerjaan rumah sudah ku selesaikan, tapi Ibu belum juga pulang kerja. Aku berusaha mengkondisikan rumah sebersih mungkin agar ketika Ibu sampai, Ibu memujiku. Setelah waktu menunjukkan pukul 17.00 wib , bapak dan ibu pulang.
“Capeknya...” Aku melihat Ibu sangat capek hari itu, aku tidak ingin mengganggunya. Dia segera mandi, kemudian tidur. Ya pujian tidak lagi aku dapat dari Ibu. Hingga pagi datang , Aku harus segera mandi dan berangkat kuliah karena kelas akan mulai pukul 07.00 tepat.
“Bu,Pak,  Eri berangkat ! Assalamualaikum .”
“ Hem belum nyapu halaman rumah, udah mau berangkat.”
“ Bu, udah jangan buat masalah! ” Bapak berkata dengan nada tinggi. Bapak jarang bicara, Dia tidak pernah memarahiku tapi tidak pernah bercanda denganku pula.
Segera aku hidupkan motor dan berangkat karena aku yakin ketika bapak mulai menjawab kata kata Ibu , itu artinya mereka akan segera bertengkar lagi.
***
Seperti biasa , tempatku beristirahat adalah di Pusat Layanan Difabel (PLD). Hari itu hanya ada Ibu Hany, beliau adalah orang yang mengurusi semua kegiatan di PLD.
“ Kamu ngga ada kelas Nduk ?” Ibu Hany menegurku dengan lembut.
“ Ada Bu  nanti, ” Aku meneruskan jawabanku dengan bertanya  “ Bu ? apakah semua Ibu selalu membandingkan anak-anak nya untuk membuat anaknya lebih baik ?”
“Ya ngga lah nduk, semua anak itu mempunyai kekurangan dan kelebihan masing masing , sebagai seorang Ibu kami harus bisa memahami masing masing , bukan membandingkan keduanya.” Jawaban Bu Hany justru membuat ku menjadi semakin bingung kerena berbeda dari yang ku ketahui.
“Jika ada yang justru membandingkannya ?” Tanya ku lagi
“ Mungkin itu karena Si Ibu sedang benar benar jengkel, dan jalan terakhir adalah membandingkan yang baik dan buruk dengan maksud si Anak bisa mengaplikasikan yang baik.” Jawaban Bu Hany membuatku sedikit paham dengan apa yang dilakukan Ibuku.
***
 Bu, apa Eri sangat membuat Ibu jengkel ? Eri harus harus menjadi Eri yang seperti apa ?  Dua kalimat aku tambahkan dalam buku usang yang kusus aku gunakan untuk mencatat pertanyaan pertanyaan dalam hati.  Setelah itu aku pulang menggunakan sepeda motor seperti biasa. Tidak pernah aku sia-sia kan waktu ku untuk tidak memikirkan bagaimana agar ibu memujiku,  meskipun sedang mengendarai motor aku selalu bertanya tanya dalam hati berusaha mengevaluasi diri . Mencari letak kesalahanku yang membuat Ibu begitu jengkel kepadaku. 
***
Kini hari-hari ku habiskan hanya dengan merenung , tubuh terasa enggan untuk bergerak , telinga terasa malas untuk mendengar semua bunyi disekitar. Dan ternyata apa yang kuharapkan itu benar terjadi. Aku merasa suasana rumah lebih tenang dari biasanya. Tidak ada lagi nada tinggi yang terdengar antara  Bapak dan Ibu yang biasanya menjadi sarapan pagi ku.
Batinku tidak pernah berhenti bertanya seperti sebelumnya,  tapi kali ini aku menanyakan hal yang berbeda . Apakah kuliah sudah mulai libur ? Kenapa aku tidak pernah pergi kuliah ? Kenapa Ibu tidak lagi bekerja ? Kenapa Ibu selalu menemani tidurku ? Apakah Ibu sudah tidak lagi jengkel denganku ?
Kali ini aku tidak begitu menginginkan jawaban dari pertanyaan batinku. Karena batinku merasa bahagia, kini Ibu mulai sayang kepadaku. Hal ini membuatku tidak ingin beranjak dari tempat tidur, membuatku enggan untuk berbicara lagi, dan berharap keadaan tenang, sunyi, tanpa ada suara apapun yang terdengar  di telinga ini terus berlangsung.
Pagi itu aku masih enggan bangun dari tempat tidur, Aku melihat Ibu dan Bapak datang ke kamar, aku sambut mereka dengan senyuman. Mereka juga tersenyum tapi ada air yang keluar dari mata Ibu, aku bahkan lupa apa yang sedang ibu lakukan itu, kenapa air bisa keluar dari mata. Ibu membawakanku makan, aku ingin mengatakan pada Ibu aku bisa makan sendiri Bu, tapi Ibu lebih dulu menyuapiku. Aku senang Ibu kini sangat sayang padaku.
***
Hari ini sebenarnya aku merasa ingin beranjak dari tempat tidur dan menyelesaikan pekerjaan rumah, tapi aku takut jika aku terbangun semua akan kembali seperti sebelumnya. Aku takut Ibu akan menjauh dariku lagi. Jadi aku masih enggan beranjak dari tempat tidur, aku berharap Ibu akan menemuiku dan menyuapi seperti kemarin.
 Ya ternyata Ibu tidak bekerja lagi, buktinya dia masih menemaniku dikamar hari ini. Akan tetapi hari ini justru sedikit membuatku takut kembali, karena seharian Ibu ku menemaniku dengan kakak. Aku takut jika Ibu terlalu lama dengan kakak ia akan kembali menjauh dariku. Ibu selalu tersenyum ketika mendapati mataku yang  melihatnya sambil memikirkan kakak.
Ketakutanku ternyata salah.  Kakak tidak menjadi penghalang kasih sayang Ibu kepadaku. Bahkan sekarang aku merasa Kakak lebih sayang kepadaku  hari ini daripada sebelumnya.
Hari yang kulalui terasa sangat menyenangkan , semua yang kuinginkan dalam keluargaku sudah benar benar terwujud. Aku yakin ini bukan mimpi. Ini memang keluargaku yang tidak pernah ada pertengkaran, yang saling menyayangi satu sama lain , tanpa terdengar lagi kalimat  masmu lebih ini!  kamu kok kaya gini !  itu lo contoh masmu !
***
Aku mulai merasa kangen dengan suasana kampus, aku ingin berjumpa dengan teman temanku, aku mulai rindu suasana PLD yang dipenuhi teman teman tuna. Ya, Aku berpikir, ini saatnya ! Aku tidak takut lagi bicara, aku tidak takut lagi mendengar, aku ingin mendengar suara Ibu, aku ingi berkata lagi.
Seperti sebelumnya Ibu masuk kedalam kamar, aku seperti sudah berkata kepada Ibu “Bu, aku ingin berangkat kuliah,” tapi kenapa ibu tidak menjawabku justru hanya senyum yang keluar dari Ibu. Aku mulai cemas tiap kali aku berusaha berkomunikasi dengan kakak, bapak juga Ibu, mereka hanya tersenyum . Aku mencoba untuk diam kembali, aku melihat mereka sedang mengobrol tapi kenapa aku hanya bisa melihat kenapa masih tetap tidak terdengar suara mereka. Apa yang terjadi padaku ? Aku ingin berdiri dan duduk disamping mereka , aku tidak lagi enggan untuk beranjak , tapi kakiku masih tidak mau beranjak. Aku berusaha melambaikan tangan, ternyata tanganku baik baik saja , tanganku berfungsi dengan normal. Ketika aku melambaikan tangan , kakak, ibu dan bapak mendekat. Aku ingin bertanya ada apa denganku ? apa yang sebenarnya terjadi ? Tapi mereka tidak menjawab apa-apa. Sampai akhirnya keluar air dari mataku, begitu pula keluargaku mereka mengeluarkan air dari mata.
***
Akhirnya aku tahu, semua tidak sedang baik-baik saja. Keluargaku memang membaik, sekarang ibu dan bapak akur, Ibu tidak lagi memarahiku apa lagi membandingkanku dengan kakak, tapi semua itu terjadi karena aku tidak sedang baik-baik saja. Setiap hari ibu memberiku obat, bukan vitamin.
Sekarang aku berkomunikasi dengan menggunakan tanganku, aku menulis dan membaca untuk tahu apa yang terjadi pada diriku. Hingga aku menulis surat pada ibu,
Bu Aku ingin Ibu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padaku  ? Kemudian aku menunggu lama hingga ibu selesai membalas surat ku. Setelah beberapa menit aku bisa membaca surat balasan dari Ibu
Jadi Nduk, kamu diantar teman teman mu dari kampus sudah dalam keadaan tidak sadar, sepertinya kamu sedang tidak fokus mengendarai sepeda montor dan terjatuh. Untungnya kata dokter tidak ada cacat fisik yang berarti, kamu tidak papa. Hanya saja psikis mu yang terganggu Nduk , sehingga kamu susah untuk bicara dan mendengar juga menggerakkan kaki. Dokter bilang kamu hanya perlu kasih sayang yang lebih, karena tekanan batin kamu jadi seperti ini Nduk. Nduk, Ini semua salah Ibu. Ibu minta maaf jika selama ini batinmu tertekan dengan sikap Ibu, Ibu sudah membaca semua tulisan di bukumu.
Jawaban Ibu menjelaskan semua yang ingin ku ketahui tapi , aku cemas hingga aku menyodorkan pertanyaan lagi kepada Ibu.
Bu, lantas apa aku tidak akan sembuh ? Ibu justru kembali meneteskan air mata membaca pertanyaanku, aku mengusap air mata itu, dan berharap Ibu menjawab pertanyaanku.
Pasti , pasti kamu akan sembuh. Hanya saja perlu waktu, kamu butuh suasana yang nyaman , disayangi,kamu juga harus semangat dan menyugesti dirimu sendiri bahwa kamu akan sembuh. Selain itu dokter juga sedah memberikan obat untuk menenangkan pikiranmu agar cepat membaik.
Aku kembali semangat setelah membaca penjelasan Ibu. Aku yakin aku akan segera sembuh. Setiap hari aku menjalani terapi ditemani ibu yang selalu sabar untuk kesembuhanku.
***
Setelah enam bulan cuti kuliah, akhirnya hari ini aku bisa kembali ke kampus kesayanganku. Aku,Ibu,Bapak juga selalu mengerjakan semua pekerjaan rumah dengan bekerjasama. Bapak dan ibu tidak lagi bertengkar. Hanya saja aku harus belajar lebih keras untuk mendapatkan beasiswa yang lain, karena beasiswaku yang dulu tidak mengizinkan cuti.
Ibuku mulai paham, bagaimana memahami karakter masing masing anak tanpa membandingkan kelebihan seorang dengan yang lain. Aku juga tidak lagi memendam masalah dalam batinku. Bapak , ibu dan aku juga Kakak selalu menyelesaikan dengan bermusyawarah. Sehingga saat ini keluarga kami menjadi sakinah , mawadah, wa rahmah.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar